Kunjungan ke Bali, UKM Pie Susu Sari

Posted by

Subuh di hari Kamis, tanggal 2 November 2017 suasana Bandara Soekarno Hatta terlihat ramai dengan pengunjung dan antrian warga yang akan memasuki lobby chek in. Beberapa dari mereka adalah jamaah umrah dan sebagian adalah pengantarnya. Kesibukan itu membuat sesak dan haru, dan saya berdiri di antara mereka yang hendak melakukan perjalanan. Namun, bukan tujuan ke tanah suci. Tujuan kali ini adalah ke Bali.

Rombongan Pengantar Jamaah Umrah

Bali part II. Mengapa part II, karena saya pernah menuliskan tentang Bali pertama kalinya bersama rombongan dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bantaeng dan empat konsultan PLUT di tahun 2015. Ternyata cerita itu berlanjut sekarang.

Bapak Malik Faisal sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UKM berdiskusi bersama para pelaku UKM

Ini pertama kalinya, melakukan perjalanan dan kunjungan bersama Dinas Koperasi dan UKM provinsi Sulawesi Selatan dan bersama pelaku UKM. Sebuah pembelajaran yang mengusung konsep Benchmarking atau Study Banding. Ada dua UKM yang menjadi tempat belajar, UKM Pie Susu dan UKM pengrajin Kerang. Sehari sebelum keberangkatan, dilakukan pertemuan bersama Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bapak Malik Faisal.

Bersama 35 rombongan yang terdiri dari pejabat dari Dinas serta UKM yaitu UKM pengrajin kayu, Bedda bolong Indo Emmang, Bedda lotong Indologo, Snack kerupuk, abon Ikan tuna, Craft, Brownies Maeki seweed, Markisa Daeng, tas dan sandal dari tali kur, dan songko to’bone serta 6 pendamping lainnya.

Bersama kepala Balatkop, Pak Aziz Bennu, Pelaku UKM dan Pendamping

Pesawat boarding 6.45 waktu Makassar, dan tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar satu jam lebih. Perjalanan kemudian berlanjut ke UKM Pie Susu Sari yang terletak di jalan Nangka Selatan Bali dan diterima oleh pemiliknya mba Vera Wulandari Anwar. Di dalam rumah produksi Pie Susu Sari, kami bisa langsung melihat proses produksi dan ikut belajar juga dan nanya-nanya bagaimana perjuangan merintis usahanya.

Diskusi dibuka oleh Bapak Azis Bennu, kepala Balatkop Provinsi sulawesi Selatan, dalam penyampaiannya berharap kegiatan ini bsa membuka wawasan dan pengetahuan UKM dalam melihat dunia luar serta membuka jaringan kerjasama.

Mba Vera sedang menjelaskan usahanya Kue Pie Susu Sari

Mba Vera bercerita usaha ini sudah dimulai suaminya sejak tahun 2013 dengan modal awal 500 ribu dan saat ini omsetnya mencapai 5 juta perhari dengan produksi 5 sampai 6 ribu pc dan biasanya mencapai 10 ribu pc. Selain menjual secara konvensional, usahanya juga menggunakan strategi online. Oh ia,  Mba Vera pernah bekerja sebagai marketing, sehingga pengetahuan yang dia punyai itu dia gunakan untuk membangun Pie Susu Sari mulai dari pengurusan ijin PIRT, Halal serta mendesain kemasan yang menarik, selain itu juga merupakan finalis Wirausaha Mandiri serta pernah mendapatkan dana hibah dari GKN (Gerakan Kewirausahaan Nasional).

Mencetak Kue Pie Susu dengan Pemberian Motif
Kue Pie Susu Sari

Dalam proses produksi Pie Susu Sari, lanjut mba Vera ada 5 proses tahapan yang dia lakukan, yang pertama proses pembuatan adonan lalu dibulatkan,kemudian dilakukan pencetakan, pemberian motif, setelah itu dipanggang dalam oven lalu dikemas dalam kemasan isi yang berbeda yaitu 6 pc, 9 pc, 25 pc dan 50 pc. Pie Susu Sari ini ada 8 varian rasa, yaitu original, cokelat, pandan, strawbery, bluebery, mocca dan keju. Pie susu Sari ini untuk rasa manis vlanya adalah manis susu dan kulitnya lebih crispy, tidak ada campuran gula dalam kue tersebut.

Proses pembuatan Pie Susu Sari
Berfoto bersama Mba Vera
Rombongan Study Banding Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan

Setelah nanya-nanya dan belanja kue Pie Susu, perjalanan dilanjutkan ke tempat makan.

 

 

 

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *