YhanthyDech's Blog

It's abOut Life, You, mE anD Them
Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melibatkan ABG-Triple Helix Colaboration

Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melibatkan ABG-Triple Helix Colaboration

Hari Selasa, 13 Februari 2018 Balai Besar Pengembangan K3 bekerjasama dengan Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan, PT Vale Indonesia, Bank Sulselbar, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, LPTM, dan Universitas Hasanuddin melaksanakan kegiatan  Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam rangka Bulan K3 Nasional 2018 dengan tema kerjasama Academic, Business, Government (ABG) Triple Helix guna Peningkatan Budaya K3 dalam mendorong terbentuknya bangsa yang berkarakter.

Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melibatkan ABG-Triple Helix Colaboration

Kegiatan ini dilaksanakan di hotel Dalton Jl. Perintis Kemerdekaan Km 16 N0. 2 Makassar. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini merupakan civitasa akademik, dari industry, dan pegawai pemerintahan.

Dari awal pagi jam 8, ruangan sudah tampak dipenuhi oleh beberapa peserta simposium, lalu sebelum acara dimulai diadakan gladi resik oleh MC. Persiapan dilakukan sebaik mungkin sesuai rundown acara. Di tengah-tengah acara hadir pula para duta K3 usia dini dari tiga sekolah yang menjadi lokasi sosialisasi K3 yakni SDN Mangkura 3, SDIT Al Biruni Makassar dan SDI Sandika Gowa.

Mengapa K3 penting?

Kita tahu bersama, dalam upaya mewujudkan produksi dan produktifitas serta kelangsungan sebuah usaha, tempat kerja yang nyaman, aman, sehat, bebas polusi dan nihil kecelakaan menjadi hal yang sangat penting,  maka diperlukan upaya manajemen dalam mengurangi kerugian kecelakaan kerja  dan juga K3 menjadi persyaratan perdagangan global, dan telah menjadi komitmen global.

Menurut data estimasi ILO (pertahun) 2,3 juta orang meninggal terkait dengan pekerjaan, 360.000 meninggal karena kecelakaan kerja, 1,85 juta sakit akibat kerja dan kerugian USD 1,25T atau 169,75T.

Bapak Ir. Amri, AK,MM selaku Kepala Sekretariat DK3N dalam penjelasannya pula menjelaskan bahwa peranan akademisi sangat penting dalam melakukan pengkajian dan penelitian  akan tingginya kecelakaan kerja yang terjadi yang didasarkan pada data-data yang diperoleh di lapangan sehingga hasil kajian dapat mengurangi terjadinya kecelakaan kerja. Perguruan tinggi diharapkan dapat meng-create manusia yang memiliki awareness, daya saing, kompetensi dan disiplin yang kuat.

Lalu dari hasil penelitian itu kemudian ditindak lanjuti dengan kebijakan dari pemerintah dan perusahaan sebagai pengguna sehingga kolaborasi ABG atau triple Helix dalam bidang K3 lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Ada tiga domain tradisional dalam pelaksanaan K3 (E. Scott Geller, The Participation Factor)

  1. Alat Kerja dan alat produksi (Engineering)
  2. Pendidikan dan Pelatihan (Education)
  3. Upaya paksa (Enforcement)

Dari Ketiga domain tersebut di atas ditujukan untuk terciptanya perilaku keselamatan kerja (safety behavior), yaitu melalui pemilihan dan penggunaan teknologi yang tepat, pendidikan dan pelatihan bagi para pelaku K3, serta upaya paksa. Namun tampaknya, upaya paksa menjadi bersifat destruktif karena apabila upaya paksa tidak efektif, maka banyak orang akan melecehkan hukum dan upaya paksa yang ketat akan menghasilkan kepatuhan semu dan menekan tingkat partisipasi. Maka menurut beliau domain Enforcement harus diganti dengan E yang lain yaitu Empowerment (Pemberdayaan)

Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3) menjadi isu global dalam era pembangunan infrastruktur saat ini, salah satu unsur dalam perlindungan tenaga kerja yang  merupakan faktor penting  untuk meningkatkan produksi dan produktivitas yang akan berpengaruh terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sumber:

Materi Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam rangka Bulan K3 Nasional Tahun 2018 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.