Perjalanan ke Bali, via Daratan dan Lautan

Mengunjungi Bali, tidak hanya lewat udara. Tapi, juga bisa melalui darat lalu menyeberang menggunakan kapal feri. Bali punya tempat menarik nan eksotik untuk di explore. Bercerita tentang Bali, ini kali ketiga saya menginjakkan kaki di sini, tentunya dengan moment yang berbeda. Namun satu yang menjadi kesyukuran dan kesamaan adalah it’s free guys.

Baca juga : Bali part I

Baca juga : Bali dan Pantainya yang Eksotik (1)

Ke Bali kali ini dalam rangka Acara penutupan Dosen Magang, 8-10 November 2018 lalu. Selama 3 hari di sana diisi dengan Seminar hasil magang selama 4 bulan, sharing sesion dan rencana tindak lanjut serta persembahkan kreatifitas para dosen muda yang magang di 11 Universitas kerenG di Jawa. Kegiatan tambahan lain, diajakin jalan-jalan sama Dosen pembimbing ke tiga tempat wisata.

Baca juga : Cerita Dosen Magang: Awal Keberangkatan ke Pulau Jawa

Sebelum Berangkat, take picture dulu

Start di kota Bandung pukul 8 pagi di terminal Kereta api untuk menuju Surabaya, kami sudah ditunggu dosen yang magang di IPB. Di terminal kereta api Jogjakarta, sudah menunggu teman-teman Dosma yang magang di UGM yang sudah menyiapkan makan malam dan bersama mereka, perjalanan dilanjutkan ke Surabaya. Di sana sudah menunggu teman dosma lainnya. Kami tiba pada tengah malam hari diringi rintik hujan. Malam itu Surabaya sedang diguyur hujan.

Pukul 2 malam, Bus yang mengangkut kami ke Pelabuhan Ketapang singgah di tempat pemberhentian bus untuk beristirahat sejenak. Tempat itu menyediakan cafe dan toko yang menjual oleh-oleh Surabaya, dan tentunya satu tempat yang dicari juga adalah toilet. Tempatnya sangat bersih, ada tempat untuk mandi pula.

Menyusuri Surabaya, sepertinya tak lengkap jika tidak melihat jembatan Suramadu, meski hanya beberapa menit dan kembali berbelok arah untuk menyeberang ke Pulau Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk. Masih terjaga, Asisten supir menginfokan untuk menyiapkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) atau kartu tanda pengenal lainnya. Syarat jika akan memasuki Pulau Bali.

Cerita Pagi, dengan berbagi ransum

Kapal feri berlabuh sedari malam sampai pagi hari, cuaca saat itu cerah. Dari dek kapal, kita bisa melihat pemandangan gunung dan pagi itu diisi dengan berkumpul untuk sarapan pagi, mengeluarkan snack, ransum yang masih tersisa dan joke yang dibuat oleh teman-teman.

Menuruni kapal feri, dan melanjutkan kembali perjalanan dengan bus. Kami singgah di Rumah Makan Muslim Bidadari negara-Bali di pinggir jalan, tempat pemberhentian untuk mengisi kampung tengah. Saat tiba sajian sudah tersedia, sehingga kami dapat memilih menu makanan, dan lagi sebelum menyantap makanan, lagi-lagi toilet menjadi tempat pertama yang dicari untuk membersihkan diri dan mencuci muka yang terletak di samping rumah makan.

Terlihat sepi, jalur yang dilalui melalui darat. Jalan poros ini sudah memperlihatkan suasana Bali, itu diihat dari properti ciri khasnya. Dan lagi sebelum beranjak melanjutkan perjalanan, kegiatan yang tak pernah luput adalah sesi foto-foto.

Tiba terminal, kami berpindah ke mobil kecil untuk melanjutkan perjalanan ke hotel Grand Istana Rama. Bus hanya boleh menurunkan penumpang di terminal. Tidak boleh masuk kota.

Saatnya beristirahat, itupun hanya setengah jam. Karena acara pembukaan akan dimulai. Menginjakkan Bali, dan kembali lagi ke Bali, karena Bali punya banyak tempat yang bisa di-eksplore, pantai, daratan tinggi dan belum lagi tentang kopinya.

Kenapa kopi? Nantilah kapan-kapan diceritakan ;D

Related Post

Leave a Reply