Seperti biasa di pagi hari, dengan menikmati secangkir teh, saya membuka laptop. Belum sampai tiga puluh menit menatap layar, sudut mata terasa gatal. Perlahan saya menguceknya, lalu kembali bekerja. “Mungkin hanya mengantuk,” pikir saya. Namun, rasa gatal itu datang lagi, disertai perih, mata merah, dan sensasi seperti ada pasir yang menyelip di balik kelopak.

Awalnya tidak terlalu peduli. Bukankah mata lelah adalah hal biasa bagi orang yang setiap hari berhadapan dengan laptop dan telepon genggam? Saya lalu membasuh wajah, lalu melanjutkan aktivitas. Ketika mata terasa kering, saya berkedip lebih sering. Ketika pandangan mulai sedikit kabur, saya melepas kacamata sejenak. Memijit ujung mata dan merasa semuanya akan baik-baik saja.
Faktanya, tubuh punya cara sendiri untuk meminta perhatian.
Beberapa hari kemudian, keluhan tersebut semakin mengganggu. Mata cepat lelah ketika membaca, terasa panas menjelang sore, dan sesekali berair tanpa sebab. Lucunya, mata yang kering justru bisa mengeluarkan banyak air mata. Air mata itu muncul sebagai respons perlindungan, tetapi kualitasnya belum tentu cukup untuk menjaga permukaan mata tetap lembap.
Pada saat itulah saya menyadari bahwa sesuatu yang tampak sepele belum tentu boleh disepelekan. Mata merah tidak selalu sekadar kurang tidur. Mata gatal tidak selalu berarti terkena debu. Pandangan kabur sesaat, rasa mengganjal, sensitif terhadap cahaya, atau sakit kepala setelah menatap layar dapat menjadi tanda mata kering, alergi, gangguan refraksi, infeksi, bahkan masalah lain yang perlu diperiksa.
Saya mulai mengubah kebiasaan kecil. Saat bekerja, saya menerapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, memandang objek sejauh sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik. Saya mengurangi kebiasaan mengucek mata, mengatur jarak layar, memperbesar ukuran tulisan, dan memastikan pencahayaan ruangan cukup. Pendingin udara tidak lagi diarahkan langsung ke wajah, karena aliran udara dapat membuat air mata lebih cepat menguap.
Saya juga belajar bahwa obat tetes mata tidak boleh dipilih sembarangan, lalu memilih #instoDryEyes. Keluhan yang berbeda bisa membutuhkan penanganan yang berbeda. Tetes mata untuk kemerahan, misalnya, belum tentu tepat digunakan terus-menerus. Karena itu, bila keluhan menetap, berulang, atau semakin berat, pemeriksaan kepada dokter mata merupakan langkah yang bijak.
Kebiasaan sederhana lainnya juga mulai saya lakukan: minum air yang cukup, tidur teratur, membersihkan kacamata, dan tidak menggunakan lensa kontak lebih lama dari anjuran. Saya pun mengingatkan keluarga agar tidak berbagi handuk atau kosmetik mata, sebab kebersihan turut menentukan kesehatan mata setiap hari di rumah maupun tempat kerja.
Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal sederhana: jangan menunggu mata “berteriak” baru kita berhenti. Mata bekerja sejak kita bangun hingga kembali tidur. #BebasMataKering, Ia membantu kita membaca, mengajar, bekerja, mengenali wajah orang-orang tercinta, dan menyaksikan begitu banyak warna kehidupan. Sudah seharusnya organ kecil ini memperoleh perhatian besar.
Segera cari pertolongan medis jika mata mengalami nyeri hebat, penurunan penglihatan mendadak, silau berat, keluar kotoran berlebihan, terkena bahan kimia, atau mengalami benturan. Gejala semacam itu tidak tepat ditangani hanya dengan istirahat atau obat yang dibeli sendiri.
Kini, setiap kali sudut mata mulai terasa gatal atau pandangan terasa berat, saya berhenti sejenak. Bukan karena menjadi berlebihan, melainkan karena sudah belajar mendengarkan tubuh. Sering kali, kesehatan tidak hilang secara tiba-tiba. Ia memberi tanda melalui keluhan-keluhan kecil yang kita abaikan.
Jadi, jika hari ini mata terasa perih, kering, merah, atau mudah lelah, jangan langsung berkata, “Ah, cuma begitu.” Berikan waktu untuk beristirahat, perbaiki kebiasaan, dan periksakan bila tidak membaik. Sebab gejala mata yang terlihat sepele bisa menjadi pesan penting. Dan pesan dari #MataSePeLe, jangan sepelein!