Bendungan Benteng, Peninggalan Sejarah yang Eksotik

Bendungan benteng tak pernah terlintas dalam fikiran sejak rencana ke kabupaten Pinrang itu diwacanakan. Yang ada, donasi harus segera disalurkan karena sudah terpending beberapa pekan lamanya, malah terhitung hampir sebulan lebih. Tak menyangka jalur yang dilalui ke tempat yang dituju melewati bendungan benteng ini.

Rasa takjub berbalur syukur menyelimut, hingga saya beserta ka Wiwi menepi sejenak melihat keindahan pesona dari bangunan yang sudah terhitung cukup lama, jika dikira-kira sudah 83 tahun sebelum Indonesia merdeka. Selama perjalanan, cuaca terlihat bersahabat, hujan tak terlihat di langit.

Bendungan Benteng, dan Sejarahnya

Bendungan benteng terletak di Desa Benteng, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Dari referensi yang saya baca, bangunan ini di bangun di tahun  1939 yang awalnya merupakan pekerjaan sebuah survey pada induk bendungan Benteng oleh Ir. FRAMA tahun 1927  lalu di tahun 1936 di bawah pimpinan Ir. H. M. VERWAY, bangunan bendungan benteng ini pun dikerjakan.

Melintasi jembatan yang menghubungkan jalur bendungan ini, rasa getaran dan air jatuh itu terasa ”menakutkan” bagi yang pertama kali melalui jalur ini. Ada rasa horor yang tertangkap, lebih horor lagi saat saya mendengar cerita pembangunan ini dari ibu teman yang didatangi rumahnya.

Cerita tentang material yang sebagian berasal dari tubuh pekerja paksa yang telah menjadi mayat.

Jalur jembatan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor, untuk sampai ke daerah pinggir dengan kendaraan roda empat, ada jalur memutarnya.

Btw, bangunan bendungan ini ternyata mampu  mengairi 62.203 hektar persawahan di kabupaten Pinrang, dan menjangkau kabupaten Sidrap dan kabupaten Sengkang yang menjadi tetangganya bumi Lasinrang yang merupakan  nama lain dari kabupaten Pinrang.

Akses ke bendungan benteng ini pun tidak banyak kendala, sepanjang jalan mengendarai motor, kita bisa menyusuri jalur aliran bendungan sebelum masuk ke Benteng. Bendungan ini memiliki 8 daun pintu.

Peninggalan sejarah dengan lamanya bangunan ini menjadikan bendungan ini menjadi cagar budaya. Dan itu sudah diatur dengan nomor 874 yang menurut undang-undang nomor 11 tahun 2010.

Belanda disebut negara yang memiliki kreatifitas dalam membuat bendungan dan teknologi itu sudah ada sejak seribu tahun lalu. Salah satu kontribusi terbesar yang dipelajari dari mereka dari berbagai coastal construction project yang dilakukannya, negeri Belanda memiliki daratan lebih rendah dari permukaan laut, gempuran ombak telah membentuk budaya inovatif yang menjadikan mereka memiliki kemampuan ini.

Bendungan Benteng Pinrang

Warna Bangunan Benteng

Warna kuning dan biru menjadi ciri khas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, terlihat pula logo yang mengelilingi pohon besar saat kami menaiki tangga tempat pohon itu berada.

Warna Dasar Lambang adalah Kuning (kuning Kunyit) memiliki makna lambang keagungan, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemakmuran, menggambarkan bahwa dalam mengemban fungsi dan peranan pembangunan di bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diabadikan dalam rasa puji syukur terhadap Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Warna Biru kehitam-hitaman mengandung arti Keadilan Sosial, Keteguhan hati, Kesetiaan pada tugas dan Ketegasan bertindak.

pohon besar di bendungan benteng pinrang

Yah, kawasan bendungan benteng ini sejak masuk sudah disapa dengan warna PUPR.

Salah satu misi dari kementerian PUPR ini adalah mempercepat pembangunan infrastruktur sumberdaya air termasuk sumber daya maritim untuk mendukung ketahanan air, kedaulatan pangan, dan kedaulatan energi, guna menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik dalam rangka kemandirian ekonomi.

Sehingga penting kemudian, sarana prasarana yang berkaitan dengan kemandirian ekonomi terjaga dan terawat untuk kemaslahatan dan anak cucu kita ke depan. Dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan merawatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *