Bosscha dan Peradaban Astronomi

Observatorium Bosscha,  sebuah tempat yang memiliki sejarah panjang yang digunakan meneropong bintang tertua di Indonesia. Dan setiap tahunnya, ia menjadi rujukan untuk penetapan awal Ramadhan dan Syawal.

Seperti Ramadhan kali ini lagi, yang diberitakan oleh Republika.

Museum Bersejarah ini berada di daerah Lembang sekitar 1300 meter dari permukaan laut. Tepatnya di Jl. Peneropongan Bintang No.45, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Saat itu daerah Lembang langitnya bersih dan belum banyak orang yang tinggal di sekitar tempat itu. Terlebih lagi langitnya gelap dan cocok dijadikan tempat untuk mengamati bintang.

Di tahun 2015 saat saya sedang belajar di Lembang, saya berencana ingin berkunjung kemari, tapi ternyata tak semudah itu Ferguso.

Waktu itu saya tak tahu medan dan teman tak ada yang punya agenda ke sana terlebih lagi jika akan berkunjung, saya mendapat kabar kalau kita harus punya jadwal janjian sebelumnya.

Alhamdulillah. Barulah saya mendapatkan kesempatan mengunjungi tempat ini di bulan September tahun 2018 yang tadinya awalnya hanya mimpi dan rencana. Perjalanan ke sana dilalui dengan kemacetan sore hari di jalanan kota Bandung menggunakan Bus kampus.

Sebelum kemari, di kampus ganesha ITB mengunjungi laboratorium Bosscha juga. Selain ganesha, ITB juga punya kampus di Jatinangor dan Cirebon.

Sejarah Observatorium Bosscha

Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar,  adalah yang bersedia menjadi penyandang dana utama dari pembangunan. Awanya dia bertemu dengan astronom berkebangsaan Belanda kelahiran Madiun, J Voute yang bermimpi bisa membangun pusat penelitian antariksa di Pulau Jawa. Gayungpun bersambut.

Kemudian Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda membangun Bosscha  dimuai di tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Sayangnya Tuan Tanah tidak melihat bangunan ini selesai dibuat. Dan namanya diabadikan sebagai observatorium Bosscha.

Bosscha

Selain sebagai tempat pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan,  observatorium bosscha mempunyai peran sebagai cagar ilmu pengetahuan dan cagar budaya di tahun 2004 oleh pemerintah dan dilindungi UU Nomor 2/12 tentang Cagar Budaya dan tahun 2008 pemerintah menjadikannya sebagai salah satu objek vital nasional.

Di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) dan bersama–sama dengan Program Studi Astronomi menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu Astronomi di Indonesia.

Edukasi Astronomi

Cuaca dingin sore hari itu, dan tempat yang begitu tenang, jauh dari kebisingan. Kami memasuki bangunan bersejarah itu, mendengarkan penjelasan bapak Denny Mandey tentang teleskop Refraktor Ganda Zeiss. Dengan berat 17 ton, panjang 11 meter teleskop ini sudah berusia 89 tahun saat saya datang kesana.

pak deny

Saat mengintip bintang dari teropong, posisi seperti berbaring tapi tidak, di atas kursi dengan sudut yang disesuaikan untuk mengamati bintang ganda, dimulai di pukul 7 malam hingga menjelang subuh saat cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan. Bangunan yang saat itu memiiki kecanggihan teknologi sejak 1928 yang dapat diputar ke berbagai arah.

Selama hampir sejam kami diberi penjelasan bagaimana cara pengoperasian dan sejauh mana peranan teropong ini.

Tanpa teropong mungkin kita tidak akan bisa melihat kebesaran ilahi di luar angkasa sana.

Lalu setelah itu, saya dan teman-teman berpindah ke ruangan multimedia, dan mendengarkan penjelasan astronomi planet dengan tata surya di dalamnya, di ruangan itu ada patung sang penyandang dana.

Waktu maghrib tiba, dan langit sudah terlihat gelap. Setelah shalat maghrib, teleskop portable yang saat kedatangan awal itu ternyata disiapkan untuk melihat bintang di angkasa di halaman luar.

Tidak hanya bintang, tapi saya dengan jelas bisa melihat rupa bulan. Masya Allah.

Tak jauh dari tempat sebelumnya, ada bangunan dimana untuk sampai dilalui dengan menuruni tangga, gelap juga. Sebuah teleskop Bamberg yang malam itupun saya melihat bintang saturnus dengan cincinnya.

Membaca tulisan Abdiel Jeremi dan mengutip kalimat ini :
Bandung is one of the only places in the world that can see the whole universe

Brian Schmidt peraih penghargaan Nobel 2011 saat kunjungannya ke ITB 2014

Observatorium Bosscha merupakan satu–satunya observatorium besar di Indonesia. Jika berencana datang berkunjung kemari aksesnya bisa dibaca disini. Sedang waktu kunjungan apakah akan berencana datang di siang hari atau malam bisa pula diakses disini.

Sumber:

https://bobo.grid.id/

https://bosscha.itb.ac.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *